Malahayati mulai berdenyut

EMPAT truk silih berganti menurunkan tanah di atas dermaga Pelabuhan Malahayati, Krueng Raya, Aceh Besar. Dari langit, gerimis turun perlahan membasahi tanah.

Di tepi dermaga, satu kapal berbadan besar, MV Hyrondek, yang mengangkut kontainer telah bersandar dan siap menurunkan kontainer. Gundukan tanah tadi akan digunakan sebagai pijakan crane untuk mengangkat kontainer dari dalam kapal.

Di antara lalu-lalang truk, para pekerja menyusun goni berisi pasir. Goni disusun beraturan agar crane dan peti kemas dapat diangkat keluar kapal. “Gundukan ini nanti akan dilalui crane itu,” ujar seorang pekerja sambil menunjuk ke arah kapal, Rabu dua pekan lalu.

Hyrondex  membawa 70 kontainer dan satu unit mobile crane. Kapal milik PT Alkan Abadi itu lego jangkar sehari sebelumnya. Dari 70 kontainer, 30 di antaranya berisi bahan makanan dan minuman. “Ada tepung, susu, dan beberapa jenis makanan dan minuman lainnya,” ujar Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh, Safwan.

Berdasarkan rencana, PT Alkan Abadi akan mengoperasikan dua kapal untuk melayani pelayaran Jakarta-Malahayati. Dalam sebulan, pelayaran dilakukan tiga kali. “Ini hasil dari MoU beberapa waktu lalu. Pelabuhan Malahayati kini telah berfungsi dan dapat dimanfaatkan oleh para pengusaha,” ujar Safwan.

Dia meminta pengusaha Aceh menggunakan jasa pelabuhan untuk pengembangan bisnis. Dengan adanya pengangkutan barang ini, logistik cost dapat ditekan sampai 30 persen sehingga harga bahan kebutuhan makanan yang dijual di pasar lebih murah. “Pengusaha tidak perlu ragu lagi, Pelabuhan Malahayati kini siap melayani pengangkutan peti kemas.”

***

KEPALA Cabang Pelindo I Malahayati I Wayan Irawan mengatakan aktivitas perdana untuk pelayaran perintis dari dan ke Malahayati sudah dimulai sejak Selasa, 2 Juli 2013. MV Hyrondex, kata Wayan, membawa satu unit mobile crane berkapasitas 180 ton yang didatangkan dari Balikpapan, Kalimantan Timur.

“Kalau sekarang aktivitas di pelabuhan sudah masuk kepada dimuatnya semen milik PT Lafarge,” ujar Wayan kepada The Atjeh Times, Jumat pekan lalu. PT Lafarge adalah perusahaan penghasil semen yang berlokasi di Lhoknga, Aceh Besar.

Dari Jakarta, kata Wayan, kapal pengangkut peti kemas milik PT Alkan Abadi akan membawa bahan makanan dan kebutuhan pokok lainnya, sedangkan dari Aceh, kapal akan membawa semen PT Lafarge. “Jadi dari Aceh yang baru ada untuk dikargokan itu semen. Nah, kalau kuota kargo ini sudah terpenuhi, tidak tertutup kemungkinan aktivitas kapal bisa sebulan empat kali,” ujarnya.

Dengan aktifnya Malahayati, Wayan berharap Pemerintah Aceh dapat membuat beberapa regulasi terkait promosi pelabuhan kepada perusahaan dan pebisnis di Aceh untuk dapat beraktivitas melalui Krueng Raya.

“Agar ini berdenyut, dukungan semua pihak sangat diperlukan, khususnya kalangan pengusaha yang selama ini ada di Aceh. Dengan memakai moda transportasi laut dari dan ke Malahayati cost akan lebih rendah,” ujarnya.

Terkait jumlah kapal, kata Wayan, para pengusaha tak perlu takut. Selama kuota kargo dari Aceh terpenuhi, PT Pelindo I bersama dengan PT Alkan Abadi siap mendatangkan kapal pengangkut yang baru. Oleh sebab itu, pada masa perintisan ini Wayan berharap semua pihak mendorong kemajuan Pelabuhan Malahayati.

Akan ada banyak manfaat ketika aktivitas Malahayati berjalan sempurna. Kata dia, ekonomi Aceh semakin membaik dan harga kebutuhan bahan pokok makanan lebih murah. “Selama ini, barang-barang yang keluar masuk Aceh dibawa lewat Pelabuhan Belawan di Sumatera Utara. Barang-barang berkumpul di sana sehingga saat dipasok terjadi disparitas (perbedaan) harga. Nah sekarang, cost tersebut sudah dapat ditekan dengan adanya aktivitas di Malahayati.”

***

DIREKTUR Utama Pelindo I Alfred Natsir beberapa waktu lalu bahkan telah mengkaji rute angkutan peti kemas Malahayati-Jakarta. Dalam kajiannya rute pulang pergi dari dan ke Malahayati bisa menghemat bahan bakar minyak karena biaya angkutan lebih murah. Perbandingannya, bila kontainer diangkut dengan truk dari Jakarta menuju Banda Aceh, dibutuhkan waktu empat hari dan biaya mencapai Rp17 juta lebih.

Selain itu, dengan angkutan kapal dari Jakarta menuju Belawan terlebih dulu, kemudian dari Belawan ke Banda Aceh dengan truk perlu waktu enam hari dan biaya Rp13 juta lebih. Sedangkan dengan kapal dari Jakarta menuju Malahayati, waktu yang dibutuhkan hanya empat hari dengan biaya Rp10 juta.
Keunggulan lain konsumsi bahan bakar.

Dengan kapal 500 Teus, kata Alfred, pemakaian bahan bakar mencapai 15 ton sehari. Jika dikalikan empat hari perjalanan, jumlah BBM yang dibutuhkan 60 ton. Ditambah 7 ton BBM untuk alat angkut, total kebutuhan bahan bakar hanya 67 ton.

Namun bila memakai truk, jumlah BBM yang dibutuhkan mencapai 360 ton. Itu belum ditambah dengan BBM yang dibutuhkan saat penyeberangan melalui Pelabuhan Merak-Bakahuni sebanyak 40 ton sehingga total BBM dengan truk mencapai 400 ton.[]

See more at: http://www.atjehpost.com/read/2013/07/16/59367/0/2/Malahayati-mulai-berdenyut#sthash.bDR0Za83.dpuf

Dalam Catatan ku

Kukisahkan ini semua dalam catatan perjalanan ku, kutulis tanpa ukiran kata yang mungkin akan terbaca sempurna walaupun dalam pencampaian nya hanya biasa saja. Kupelajari setiap detik waktu yang berputar dalam lingkaran roda hidupku, ternyata aku adalah bingkai dari sebuah lukisan pudar yang semakin tak indah dalam tatapan sekejap. Bukan pula indah jika lama dipertahankan, aku hanyalah selongsong yang terbuang dikala mamfaat nya sudah terpakai. Kurangkai jejak-jejak ku dalam kata yang bisa terbaca, bahwa perjalanan ku adalah perjuangan untuk sebuah kehidupan yang tak kutau dimana letak nya. Bukan ingin dikatakan tiada henti, tapi memang arti memberi sesuatu yang tak kupahami. Derap langkah perih tak tertepi namun perjalanan panjang belum saat nya terhenti sebab pagi selalu menanti untuk berganti. Aku disini bersama matahari mengikuti rotasi, sebuah perubahan tanpa henti setiap hari. Pudarku tertatap sama bahkan semakin menjadi, tak hilang hanya saja menjadi bayang-bayang seperti alur sebuah mimpi yang terlupa ketika pagi menghinggapi. Senyap menyapa,rindu mengalir,sakit menjadi lara yang menyusahi,apalah aku ini jika seperti ini, hanya selonsongan kecil yang jadi ketika menjadi, yang hilang ketika gelap, yang lenyap ketika mata terlelap. Itulah prosa yang menjadi dosa,sia-sia bahkan tak terkira selaku manusia. Disudut sana yang tak jelas kuatahu koordinatnya, termangu aku duduk meratap semua, mengembalikan segenap jiwa ku dalam pikiran panjang kisah perjalanan ku, kutemukan catatan usangku dalam pikir panjang itu bahwa dahulu aku adalah nada-nada indah alunan sebuah melodi, bahwa aku juga pernah hidup dalam cinta yang terkasihi, dalam arti yang dapat memberi, dalam mimpi sebagai penyemangat pagi. Aku terbangun dalam rotasi waktu masa lalu itu, kuhela nafas ku agar ku tak lagi menambah keruh nya muka manusia dimuka ini. Kugerak kan langkah kakiku, dengan derap langkah seperti tua meronta, aku siap berlari meninggalkan aku yang bukan lah akuaku siap berlari meninggalkan masa lalu yang akan menjadi pelajaran untuk kehidupan berikutnya. Tidak pernah akan kudengar gumam debur ombak yang menghacurkan bongkah karang yang kurangkai agar menjadi hiasan ditengah lautan.

YANG BIJAK

Ketika lelah menguntai langkah dalam sebuah perjuangan, apa yang ingin kau katakan hari itu ??? Apakah aku cukup puas dengan apa yang aku dapat kan sebab ini sebagai bukti aku telah melakukan sesuatu hari ini atau kah aku merasa ini adalah sebuah upaya kecil yang perlu ku jelaskan pada dunia jika itu adalah bagian teramat penting yang harus di lirik. Lanjutkan lah, sebab aku mulai terlelahkan dan kini saat nya aku terbaring di pembaringan sejati tanpa memikirkan itu lagi. Aku tau setiap makna yang terangkai adalah akhir dari sebuah tepi yang mungkin akan sedikit sulit di mengerti atau pula kali yang kering sebab air nya habis di minum oleh bumi yang telah haus karena dipaksa bekerja keras oleh tangan-tangan manusia yang tidak bertanggung jawab. Namun apa itu, diantara nya adalah air,hutan,dan segala hal yang merupakan sekumpulan penghuni bumi raya ini. Pada bagian itu lah awal kehidupan bermula, dimana setiap kandungan yang tergabung didalam nya adalah satu sama lain yang tak terpisahkan atau kisah pada kata lain disebut sebagai simbiosis mutualisme. Manusia tidak akan pernah bisa berhenti mencari, tidak akan bertahan tanpa pendukung, tidak akan ada tempat jika tak kompromi. Namun apa yang terjadi hari ini, bumi sebagai sebuah rangkaian sistem inti sebuah pusat peredaran saling membutuhkan mulai terabaikan. Kekayaan bahasa yang dipacu dengan sistem-sistem modern, saat ini bumi kita sudah disebut-sebut sebagai sebuah tempat yang semakin panas dan tak besahabat, bencana alam bahkan fenomena lain nya kerab melanda sekucur tubuh nya. Global Warming atau pemanasan global adalah bahasa modern yang diadopsi dari kekayaan bumi ini namun tak dipeduli sebab tindakan terpuji sudah mulai sulit ditemui. Pencanangan berbagai program dengan embel-embel Go Green atau menghijaukan bumi ini hanya lah sebatas projek bagi mereka penggarap jantung bumi, namun reality adalah sebuah fakta yang menunjukkan kita semakin terpuruk dengan situasi yang terjadi pada bumi saat ini. Apa yang bijak dari masalah ini, hanya lah lukisan masa depan yang pernah terbayangkan namun tak terjadi, yang pernah diawali namun tak di tindalujuti. Cukup sudah tubuh nya dipanaskan dengan sinaran tajam ultraviolet yang semakin hari mendekati tanpa henti, lelah sudah kulit lapisan yang menembus perut nya di basahi dengan air mata diri nya sendiri. Jika bukan kita siapa lagi, mari selamatkan bumi ini dari bahaya erosi, polusi, dan segala macam yang membuat nya semakin mati.

Kutorehkan!

Kutoreh kan ini dalam sebauh catatan usang yang tak mungkin akan dibuka setelah semua nya berlalu dalam hidupku. Kuukir kata-kata ini agar jalan yang telah kutentukan mempunyai catatan untuk tersimpan. Meski tak rapi seperti sebait puisi akan tetapi ini menjadi penyejuk hati dikala mengakhiri. Apa pun yang aku tuliskan ini berarti bagi pribadi serta nurani diri. Aku hanya tau bahwa duka bukanlah asa yang harus dituntun sepanjang perjalanan hidup, akan tetapi itu adalah obat dari rasa bahagia yang akan ada dan hadir dalam hidup manusia. Tak ada yang sia-sia terhadap apa kita alami, tak ada henti dari derap kaki yang pasti melangkah sebelum kita mati. Mencari, mengamati dan mempelajari adalah bahagian dari apa yang akan kita alami dibumi, namun dibalik itu ada arti yang harus kita gali tanpa henti, itu sebab hidup pastikan akan mati dan kembali.

Maha Adil !

Dalam keadaan apapun kondisi seorang anak manusia, Allah tetap tidak pernah menetapkan dia sebagai pecundang yang tidak bisa mendapatkan jalan keluar. Dia Maha adil, tempat berteduh dan meminta segala apa yang kita ingin selama melangkah kan kaki di bumi yang Ia ciptakan. Tak ada tuntutan akan pribadi, namun janji tetap lah menjadi bagian yang harus ditepati sebagai sebuah wujud sadar nya pribadi kita bahwa manusia bukan lah individual yang tumbuh dengan sendiri nya tanpa ada yang menghendaki nya hadir dipermukaan bumi ini. Dalam hal ini dapat juga kita simpulkan hal tersebut adalah sebuah penghormatan serta kesyukuran kita atas apa yang telah diciptakan dan diberikan oleh yang Kuasa. Berangkat dari sebuah cerita yang tak lama ini kudapati, kesadaran akan Maha Adil adalah sebuah prioritas yang harus diutamakan, baik dalam hidup kita secara personal atau pula kelompok. Hari itu aku berjalan melangkahkan kaki ku kesebuah desa terpencil di dalam provinsi NAD. Banyak hal yang aku dapati ketika beberapa jam berada disana, termasuk kata yang menjadi pengantar pada tulisan ku yang tak seberapa ini. Kisah seorang pemuda pedalaman yang mampu bangkit dari kerendahan pendidikan menjadi seorang Guru dikampung tersebut. Berbekal ijazah SD yang mungkin tidak bisa dipergunakan lagi dikota-kota besar, pemuda itu melaju layak nya seperti seorang sarjana memberikan berbagai pengetahuan kepada anak-anak desa pedalaman yang mungkin saat itu tidak pernah mengetahui sama sekali apa itu Abjad A-Z. Meskipun hanya memulai dari dasar setidak nya pemuda itu telah menunjukkan bahwa hidup untuk belajar itu bukan lah hal yang sulit jika dibarengi dengan keinginan dan kemauan. Setiap hari proses tersebut dilewati, tak kenal putus asa dan terus berusaha itu lah yang ditunjukkan nya. Namun bagaimana dengan posisi Adil yang membuat cerita ini memiliki kesenergian dengan judul yang aku tuliskan. Usaha pemuda tersebut dalam menggapai impian nya untuk tetap belajar meskipun tidak disokong dengan kekuatan ekonomi yang kuat tak pernah kandas. Dari usaha nya itu berbagai macam ilmu bisa dicurahkan kepada yang tidak mengetahui, bagi saya itu lah keadilan yang mungkin tidak dilakukan oleh banyak orang. Pendidikan tinggi bahkan hingga keluar negeri, namun rasa abdi dan berbagi akan sedikit sungkan ketika menghadapi situasi yang amat jauh berbeda dengan jalanan kehidupan nya, misal nya saja pertukaran situasi dan kondisi antara desa dengan kota. Allah Maha Adil, dia menciptakan keterbelakangan tetapi tetap memberikan kemudahan dalam melangkahkan kaki kedepan, semua proses yang Dia ciptakan merupakan sebuah negosiasi agar manusia tetap berada pada jalur hidup nya. Adil sama berarti pada posisi tengah, tak ada yang lebih dalam pribadi yang Ia ciptakan sebab yang lebih hanya lah milik- Nya.

Tengah!

Jika saya tidak salah mengartikannya, maka ada 2 makna pada kata TENGAH itu. Yang pertama bisa jadi sedang melakukan atau berlansung nya sesuatu, sedangkan yang kedua dapat diartikan sebagai sebuah letak atau posisi keberadaan sesuatu. Setelah hampir beberapa bulan aku mengosongkan ruang tulisku ini, kali ini kucoba mengangkat dan mengupdate kembali berbagai hal yang mungkin layak kutulis dan kubaca, khusus nya bagiku pribadi sebagai sebuah pelajaran dalam perjalanan hidup. Mungkin bagai kamu yang juga membaca tulisan ku ini (sebelum nya aku ucapkan terimakasih) tentu sedikit bertanya, Kenapa tengah dan ada apa dengan Tengah ?? Baiklah, sebelum lebih dalam mengupas makna tengah, Aku juga ingin bertanya satu hal, kepada pribadi ku atau kalian yang mungkin hanya ku kenal lewat dunia maya ini, namun tetap sebagai saudara karena dilahirkan dari nenek moyang yang sama yaitu nabi Adam dan Siti Hawa. Pertanyaan ku simpel dan bisa dijawab dalam hati saja atau juga coment, dan yang menjadi pertanyaan,” Butuhkah keseimbangan dalam sebuah kehidupan, ya khusus nya hidup kita selaku manusia yang mempunyai akal dan pikiran ??” ketika kalian menjawab butuh atau pun tidak, silakan pula kalian pikirkan KENAPA??. Bukan bermaksud menjadi guru atau mendikte kehidupan seseorang, hanya saja ini sebuah pemikiran yang mungkin bisa bermamfaat bagi aku dan juga semua. Berlanjut setelah menjawab itu semua, aku juga kembali bertanya, “Apa yang harus lebih dalam kehidupan kita selaku manusia??”. Mungkin akan ada beribu jawaban yang sama atau juga berbeda kita temukan. Jika pada posisi ini, secara pribadi saya mempunyai jawaban singkat, tapi saya tidak tau bagaimana dengan teman-teman. Jawaban saya adalah ” yang harus lebih itu hanya satu yaitu Akrab dan menyayangi Dia yang telah menciptakan Kita“. Dalam jawaban singkat saya itu, ada makna panjang yang tidak mungkin saya tuliskan saat ini, bahkan mungkin kalian juga tahu seperti apa makna nya. Nah…setelah itu saya juga kembali mengkombinasikan jawaban saya pada pertanyaan kedua dengan pertanyaan pertama, pada pertanyaan pertama saya mempunyai jawaban “hidup itu harus penuh keseimbangan, kenapa karena yang menciptakan kita juga berlaku seimbang kepada seluruh Ciptaan-Nya, dia kita sebut Maha Adil” dan alhasil saya mendapatkan sesuatu yang Bagi saya itu Penting sekali, yaitu kita Manusia selaku  mahkluk ciptaan-Nya harus berlaku/ berbuat lebih Kepada Tuhan kita untuk mendapatkan kebaikan dan tempat yang layak kelak nanti, harus berjalan lurus pada posisi tengah agar tidak Bergeser keatas dan bawah atau juga ke kanan dan ke kiri. Posisi tengah diibaratkan sebuah jembatan yang hanya mampu dilewati satu persatu orang, dan ketika kita bisa melewati itu hingga ke ujung jembatan,maka itu lah posisi Lebih yang sebenar nya menjadi tujuan kita. Dalam berjalan tentu kita akan banyak mengalami tantangan dan hambatan, namun ketika posisi kita tetap stabil dan seimbang ( ini adalah bentuk posisi tengah ) maka kenyamanan pun selalu menyertai. Jika didalam kehidupan, saya akan mengibaratkan ini dalam 3 hal yaitu : kaya, sederhana, miskin. Yang mana yang akan kita pilih, tetap kita memiliki jawaban yang berbeda. Sebagian orang mungkin beranggapan, kaya itu lebih nikmat, miskin itu itu lebih baik atau lain sebagai nya. Pada dasarnya sangat jarang kita mengungkap kesederhanaan dalam hidup ini, selalu yang menjadi sorotan adalah miskin dan kaya. Jika kita berkaca kembali, kedua hal yang selalu menjadi sorotan itu bukan lah kesenangan dalam hidup. Kaya, mungkin kita mempunyai harta trilunan rupiah atau US dollar, namun diincar dengan berbagai hal yang diluar pikiran kita dan merusak kenyamanan hidup kita, apakak kita akan tenang menikmati kekayaan itu ??, Miskin..biar sekali makan saja asal bisa hidup dan bertahan untuk esok, apakah kita akan nyaman berada dalam lingkaran itu secara terus menerus?? Tak pendidikan yang bisa kita tempuh, tak ada keahlian yang bisa kita pelajari, maka berartika kata Hidup ini senang walaupun saya miskin?? bagi saya tidak.  Bagaimana dengan posisi tengah yang terkadang tak pernah kita hiraukan, sungguh ini adalah posisi yang begitu menakjubkan. Manusia sering terlupa dengan hal ini, sebab kita hanya berfikir hidup ini hanya berangkat dari susah menjadi senang, dari miskin menjadi kaya, sehingga batas ambang pada posisi tengah terlewatkan begitu saja. Sejenak kita merenungkan hidup ini, jika kita berada dalam posisi tengah, apakah kita akan terganggu dengan hal-hal yang lain, apakah akan ada semua yang tidak senang melihat kita, sungguh tidak akan pernah ada. Yang lebih itu hanyalah milik-Nya bukan pada kita, yang lebih cinta dan Akrab kepada Dia bukan pada Dunia yang fana dan sementara.

Pecah

Kata yang tertulis diatas, saat ini cocok aku tuliskan sebagai suatu kejadian yang menimpa diriku belakangan ini. Usai menulis “Beberapa Judul”, aku mempunyai satu rencana untuk terus dapat meng-update blog ku yang tak seberapa ini, terlebih terhadap narasi yang berjudul dalam tema “Beberapa Judul”, namun apa yang terjadi, tak ada satu rencana pun dari itu bisa kuwujudkan untuk saat ini. Bukan terletak pada alasan koneksi internet yang sedikit lemot atau juga waktu yang tak cukup karena berbagai aktifitas, melainkan karena akhir-akhir ini , terlebih setelah aku terhitung sebagai suatu comunity jobles di Bumi Serambi ini, pikiran tak karuan menghujam diriku, bahkan untuk sedikit berkomentar tentang sesuatu yang sedang dahsyat-dahsyat nya dibicarakan begitu susah kulakukan.  Saat aku mengatakan hal tersebut sebagai sebuah alasan, pasti kerab orang yang sedang membaca berkata ” Gak cukup uang kali untuk online 1 atau 2 ajam”, bukan pula itu alasan nya. Tetap kembali pada yang telah ku utarakan ” Pikiran tak karuan menghujam segenap hari-hari ku“, mulai dari kehidupan yang tak aku tahu berapa lama lagi atau dalam kata sederhana nya “Masa Depan ku Selama Tuhan menghendaki aku berpijak pada Bumi ini”, dosa-dosa besar dan kecil yang teringat atau juga terlupa, Keluarga besar yang sudah tercipta sebagai sebuah jalinan persaudaraan yang tak boleh dilupakan seumur hidup kita, sahabat hingga teman yang masih terekam dalam memori ku atau juga yang sudah lenyap dalam masa nya, kenangan bahkan hingga kemasalah realita kehidupan hari ini, yaitu Cinta dan Kasih sayang, dan dalam hal itu bukan hanya dengan dia sebagai seorang pacar namun juga kepada semua populasi yang terbagi-bagi dalam bumi ini. Tak cukup satu jam untuk memecah teka-teki itu semua, butuh beberapa hari bahkan mungkin juga bulan, karena itu adalah beban kehidupan yang harus ditunggang setiap manusia pikir ku. Ada pertanggung jawaban pribadi bahkan sosial didalam hal tersebut, maka wajar saja mumet nya bukan kepayang ketika refleksi diri itu kita lakukan, terlebih dalam kondisi kita sebagai seorang pejuang kehidupan di negeri orang atau juga sebagai seorang diri yang harus bertahan dengan kasih sayang yang baru dikenal ataupun tak dikenal. Hanya diri sendiri lah yang dituntut untuk memikirkan nya dan bukan pula enggan berbagi dengan yang ada, akan tetapi mereka juga sedang mengalami hal yang sama mungkin atau juga pikiran tak mau menyusahkan yang lain karena itu semua. Saat-saat seperti ini lah kata “PECAH” muncul dalam diri, baik itu diawali dengan pecah nya konsentrasi atau hingga kepecah nya keyakinan serta kepercayaan sehingga mengubah nurani kita menjadi sesuatu yang berbeda dari sebelum nya. Syukur ku saat ini, aku tidak tiba pada garis keyakinan dan kepercayaan, hanya saja pada konsentrasi sebagai sebuah cipta pemikiran serta jalan yang sebenar nya harus kulalui kedepan lagi, detik ini atau juga ntah berapa lama lagi. Harapku semua akan kelar pada masa nya, dan setelah akupun dapat tersenyum lebar dengan berkata ” Terimakasih semua terlebih lagi kepada-Mu sang pencipta segala ciptaan, aku bangga menjadi hamba-Mu yang tahu rasa dari segala rasa yang ada, hingga aku pun Bisa seperti saat ini yaitu menjadi pribadi yang memilki nurani untuk bertahan pada masa nya harus bertahan, untuk Melawan pada masa nya harus Melawan serta untuk berbahagia pada masanya berbahagia Tiba” 🙂 .